Kebisingan Internal
Tes pengenalan diri tentang dialog batin yang negatif dan kebiasaan terus memikirkan hal yang sama (ruminasi)
🔒 Jawaban hanya di perangkat Anda ⚡ Hasil instan
Yang Dibahas dalam Tes Ini
Kebiasaan terus memikirkan kesalahan dan masa lalu
Seberapa banyak pikiran Anda bisa beristirahat
Satu ide untuk menghadapi pikiran yang terus berulang
Cara Kerjanya
Jawab pertanyaannya
Pertanyaan singkat tentang apa yang Anda rasakan, pikirkan, dan lakukan.
Dapatkan hasil Anda
Ringkasan singkat sesuai rentang skor Anda.
Ambil yang sesuai untuk Anda
Satu saran sederhana untuk dibawa ke keseharian Anda.
Monolog batin dan ruminasi: apa yang diketahui, dan apa yang diukur tes ini
Teks InnerlyTests ini dibuat dengan kecerdasan artifisial (AI), berdasarkan sumber-sumber yang dicantumkan di bagian akhir. Tinjauannya bersifat editorial dan juga dilakukan dengan AI: tidak ada psikolog maupun profesional kesehatan mental lain yang meninjau konten ini. Diperbarui: . Tentang Kami
Jika Anda datang ke sini karena ingin tahu apakah Anda punya suara di dalam kepala, yaitu cara berbicara kepada diri sendiri dalam hati tanpa bunyi, jawaban jujurnya ada dua bagian. Tidak ada tes daring yang bisa memastikan apakah Anda punya monolog batin. Dan Kebisingan Internal tidak mengukur hal itu: tes ini membahas kebiasaan terus memikirkan hal yang sama berulang-ulang (ruminasi) dan dialog batin yang negatif. Panduan ini menjelaskan keduanya.
Apakah semua orang punya monolog batin?
Para peneliti menyebut pengalaman berpikir dengan kata-kata sebagai ujaran batin (inner speech): seolah-olah Anda berbicara di dalam diri, dengan suara Anda sendiri, tetapi tanpa bunyi (Hurlburt dkk., 2013). Ujaran batin dipakai, misalnya, untuk merencanakan, berlatih mengucapkan sesuatu, dan juga untuk ruminasi; ujaran batin pun berbeda-beda pada tiap orang dan berubah sepanjang hidup (Alderson-Day dan Fernyhough, 2015).
Seberapa sering ujaran batin muncul bergantung pada cara bertanyanya. Dalam sebuah studi tahun 1987 yang memakai bunyi bip pada waktu acak dan kuesioner singkat, sekitar tiga perempat jawaban berisi monolog batin. Dengan Pengambilan Sampel Pengalaman Deskriptif (DES), metode Russell Hurlburt yang menggabungkan bunyi bip acak dengan wawancara mendetail, ujaran batin muncul pada sekitar 20% hingga 25% momen (data dirangkum oleh Alderson-Day dan Fernyhough, 2015). Frekuensinya juga sangat berbeda dari satu orang ke orang lain (Heavey dan Hurlburt, 2008).
Sebagian orang melaporkan bahwa ujaran batin mereka sedikit atau bahkan tidak ada. Nedergaard dan Lupyan (2024) mengusulkan nama “anendofasia” untuk hal ini. Dalam studi mereka, orang yang melaporkan sedikit ujaran batin berkinerja lebih rendah pada tugas memori kerja verbal dan dalam menilai rima, tetapi tidak pada dua tugas lain yang diuji. Gagasan ini masih diperdebatkan: dalam sebuah komentar tahun 2025, Lind menyimpulkan bahwa tidak ada bukti meyakinkan bahwa ada orang yang sama sekali tidak memiliki ujaran batin. Ini adalah nama yang diusulkan dalam sebuah penelitian, bukan diagnosis.
Ujaran batin terasa sebagai sesuatu yang Anda hasilkan, bukan sesuatu yang Anda dengar (Hurlburt dkk., 2013). Para peneliti juga menggambarkan “pendengaran batin”: mendengar sesuatu hanya dalam imajinasi, misalnya suara orang lain (Alderson-Day dan Fernyhough, 2015). Lain halnya dengan mendengar suara-suara yang tidak didengar orang lain tetapi terasa sangat nyata; hal ini bisa punya banyak kemungkinan penyebab, mulai dari stres hingga efek samping obat. Jika hal ini Anda alami, NHS, layanan kesehatan publik Britania Raya, menganjurkan untuk menemui dokter tanpa menunda, karena penanganan sejak dini bisa lebih efektif.
Bisakah dites apakah Anda punya suara di dalam kepala?
Tidak dengan cara yang sederhana. Kuesioner penelitian tidak selalu sejalan satu sama lain, dan hasil DES kadang bertentangan dengan kuesioner; DES sendiri pun diperdebatkan, karena wawancaranya bisa memengaruhi apa yang dilaporkan orang (Alderson-Day dan Fernyhough, 2015). Kuis dengan beberapa pertanyaan tidak bisa menjawab persoalan ini.
Jika penasaran, amati tanpa terburu-buru: pada beberapa saat dalam sehari, perhatikan apa yang ada di benak Anda sesaat sebelumnya. Ini hanya terinspirasi dari gagasan pengambilan sampel, bukan metode ilmiahnya, dan tidak ada jawaban yang benar. Studi-studi DES berulang kali menemukan lima pengalaman yang umum; dalam salah satunya, dengan 30 mahasiswa, masing-masing muncul pada sekitar seperempat momen (Heavey dan Hurlburt, 2008):
- Ujaran batin: kata-kata yang diucapkan di dalam diri.
- Melihat di dalam batin: gambaran dalam imajinasi.
- Pikiran tanpa simbol: pikiran yang jelas, tanpa kata, gambar, atau simbol lain.
- Perasaan.
- Kesadaran indrawi: perhatian pada suatu sensasi.
Apa yang diukur Kebisingan Internal, dan apa yang tidak
Kebisingan Internal adalah tes pengenalan diri dengan 4 pertanyaan: bagaimana pikiran Anda bereaksi terhadap kesalahan kecil, seberapa keras kebisingan pikiran cemas, apakah Anda terus menghidupkan kembali masa lalu, dan seperti apa pikiran Anda saat beristirahat. Tes ini tidak mendeteksi monolog batin. Tes ini juga bukan adaptasi dari kuesioner ilmiah dan belum divalidasi, dan kamilah yang menentukan di mana setiap rentang hasil dimulai. Yang diberikannya adalah gambaran sesaat tentang kondisi Anda sekarang.
Selain itu, belum terbukti bahwa ruminasi bergantung pada berpikir dengan kata-kata. Ruminasi memang sering digambarkan seperti itu, tetapi studi tidak selalu memeriksanya; dalam sebuah studi yang dikutip oleh Alderson-Day dan Fernyhough (2015), orang dengan depresi ringan atau sedang melaporkan bahwa pikiran berulang mereka punya kualitas auditori, visual, atau ragawi. Karena itu, pertanyaan-pertanyaannya membahas kebiasaan kembali ke pikiran yang sama, bukan bentuk pikirannya.
Memikirkan masalah atau ruminasi?
Susan Nolen-Hoeksema, pencetus teori gaya respons, menggambarkan ruminasi sebagai memusatkan perhatian secara pasif dan berulang-ulang pada penderitaan sendiri dan keadaan di sekitarnya (sebagaimana dikutip oleh Watkins, 2008). Dalam sebuah tinjauan tahun 2008, ia dan rekan-rekannya mengumpulkan bukti bahwa ruminasi memperparah depresi, memperkuat pikiran negatif, menghambat pemecahan masalah, dan mengikis dukungan sosial. Ruminasi juga berkaitan dengan kecemasan.
Namun, kembali memikirkan suatu hal tidak selalu merugikan. Dalam tinjauan yang terbit di Psychological Bulletin, Watkins (2008) menunjukkan bahwa pikiran berulang juga bisa membantu orang pulih dari peristiwa yang berat dan membuat rencana ke depan. Salah satu faktor penting adalah apakah pikirannya abstrak atau konkret:
- Ruminasi cenderung berputar di sekitar “kenapa ini terjadi?” dan “apa artinya ini?”. Pikiran yang lebih berguna bertanya “apa yang terjadi, langkah demi langkah?” dan “apa yang saya lakukan sekarang?”.
- Dalam sebuah studi yang dikutip oleh Watkins (2008), pertanyaan abstrak (“kenapa masalah ini terjadi?”) memperburuk pemecahan masalah sosial pada orang yang pernah mengalami depresi dan sudah pulih, sedangkan pertanyaan konkret tentang cara melanjutkan mengurangi kesulitan itu pada orang yang sedang mengalami depresi.
Hal-hal yang mungkin membantu mengecilkan volumenya
Tidak ada resep pasti, dan yang membantu satu orang belum tentu membantu orang lain. Ide-ide ini berasal dari studi pada kelompok dan situasi tertentu, dan tidak satu pun merupakan obat penyembuh:
- Mengganti “kenapa” dengan “bagaimana”: saat Anda sadar sedang terus memikirkan hal yang sama, gambarkan secara konkret apa yang terjadi dan apa langkah berikutnya yang mungkin.
- Menulis secara konkret. Dalam sebuah eksperimen yang dikutip oleh Watkins (2008), setelah kegagalan yang diatur di laboratorium, orang yang lebih mudah terjebak dalam pikirannya memiliki suasana hati yang lebih buruk 12 jam kemudian hanya jika mereka menulis dengan cara abstrak (“kenapa saya merasa seperti ini?”), bukan jika mereka menggambarkan perasaan mereka dari momen ke momen.
- Mengambil jeda dengan sesuatu yang menyita perhatian. Puluhan eksperimen menunjukkan bahwa pengalihan yang positif meredakan suasana hati yang murung saat itu juga, meskipun studi korelasional tidak selalu menegaskannya (Nolen-Hoeksema dkk., 2008).
- Kesadaran penuh (mindfulness) atau terapi kognitif perilaku. Dalam tinjauan atas 19 studi, intervensi berbasis mindfulness dan intervensi kognitif perilaku mungkin efektif untuk mengurangi ruminasi dan kekhawatiran, baik secara daring maupun tatap muka (Querstret dan Cropley, 2013).
Saat kebisingan terasa terlalu berat
Semua orang kadang memikirkan ulang suatu hal. Bicaralah dengan psikolog atau dokter jika pikiran berulang menyita sebagian besar hari Anda, membuat Anda sulit tidur, membebani pekerjaan atau hubungan Anda, atau datang bersama rasa sedih, hilangnya minat, atau rasa putus asa yang tidak kunjung hilang. Kebisingan Internal tidak dapat membuat penilaian itu untuk Anda.
Ada pengobatan yang didukung bukti. Sebuah meta-analisis tahun 2025 atas 55 uji acak terkontrol dengan hampir 5 ribu peserta menemukan efek sedang dari terapi kognitif perilaku terhadap pikiran negatif berulang dibandingkan dengan kelompok kontrol, serta efek yang lebih besar pada pendekatan yang khusus menyasar pola ini (Stenzel dkk., 2025; koreksi tahun 2026 merevisi klasifikasi jenis terapinya, tanpa mengubah kesimpulan).
Jika kebisingan itu disertai pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau mengakhiri hidup, atau perasaan bahwa Anda tidak aman, segera cari bantuan: dari orang yang Anda percayai di dekat Anda, layanan darurat setempat, atau layanan dukungan emosional di negara Anda. Meminta bantuan pada saat seperti itu bukanlah hal yang berlebihan. Situs ini tidak memberikan layanan medis atau psikologis, dan tidak ada yang membaca jawaban Anda.
Sumber
- Alderson-Day, B., & Fernyhough, C. (2015). Inner speech: Development, cognitive functions, phenomenology, and neurobiology. Psychological Bulletin, 141(5), 931–965. DOI: 10.1037/bul0000021
- Hurlburt, R. T., Heavey, C. L., & Kelsey, J. M. (2013). Toward a phenomenology of inner speaking. Consciousness and Cognition, 22(4), 1477–1494. DOI: 10.1016/j.concog.2013.10.003
- Heavey, C. L., & Hurlburt, R. T. (2008). The phenomena of inner experience. Consciousness and Cognition, 17(3), 798–810. DOI: 10.1016/j.concog.2007.12.006
- Nedergaard, J. S. K., & Lupyan, G. (2024). Not everybody has an inner voice: Behavioral consequences of anendophasia. Psychological Science, 35(7), 780–797. DOI: 10.1177/09567976241243004
- Lind, A. (2025). Are there really people with no inner voice? Commentary on Nedergaard and Lupyan (2024). Psychological Science, 36(9), 765–767. DOI: 10.1177/09567976251335583
- NHS (2023). Psychosis: Overview [ditinjau 5 September 2023]. Diakses 25 Oktober 2026.
- Watkins, E. R. (2008). Constructive and unconstructive repetitive thought. Psychological Bulletin, 134(2), 163–206. DOI: 10.1037/0033-2909.134.2.163
- Nolen-Hoeksema, S., Wisco, B. E., & Lyubomirsky, S. (2008). Rethinking rumination. Perspectives on Psychological Science, 3(5), 400–424. DOI: 10.1111/j.1745-6924.2008.00088.x
- Querstret, D., & Cropley, M. (2013). Assessing treatments used to reduce rumination and/or worry: A systematic review. Clinical Psychology Review, 33(8), 996–1009. DOI: 10.1016/j.cpr.2013.08.004
- Stenzel, K. L., Keller, J., Kirchner, L., Rief, W., & Berg, M. (2025). Efficacy of cognitive behavioral therapy in treating repetitive negative thinking, rumination, and worry – a transdiagnostic meta-analysis. Psychological Medicine, 55, e31. DOI: 10.1017/S0033291725000017
- Stenzel, K. L., Keller, J., Kirchner, L., Rief, W., & Berg, M. (2026). Efficacy of cognitive behavioral therapy in treating repetitive negative thinking, rumination, and worry – a transdiagnostic meta-analysis – Corrigendum. Psychological Medicine, 56, e31. DOI: 10.1017/S0033291726103304